Luna dan Kejadian tak Terduga

Oleh Suci mutihatunnisa

Bel tanda pulang yang telah lama dinanti-nanti oleh Luna akhirnya berbunyi. Semua murid bersiap-siap untuk pulang, tak terkecuali dengan Luna. Dengan segera Luna memasukkan semua barang yang ada di atas mejanya ke dalam tas. Setelah selesai berdoa dan berpamitan dengan guru, Luna, Maya, Sandra, dan Dewi bergegas meninggalkan kelas menuju gerbang sekolah untuk menunggu dijemput.

Tak lama kemudian, dari arah kejauhan terdengarlah klakson minibus yang amat memekakkan telinga. Bayangkan saja, Mas Paijo, begitu panggilannya, seorang supir minibus yang selalu tidak cukup sekali memencet tombol bundar yang terletak di tengah-tengah stirnya itu, tidak pernah sadar kalau kelakuannya amat sangat mengganggu. Mas Paijo akhirnya turun dari minibusnya untuk menunngu anak-anak yang masih ada di dalam sekolah.

“Wi, bilangin sama masmu itu kalo mencet klakson gak usah napsu,” kata Luna sambil senyum-senyum menahan ketawanya.

“Ha..ha..ha,” Luna, Maya, dan Sandra tertawa terbahak-bahak.

“Gak salah Lun? Itukan masmu,” kata Dewi dengan muka jengkelnya.

“He..he.. jangan marah dong, aku kan bercanda Wi,” balas Luna.

“Oke lah, lagian aku gak marah kok, he..he,”kata Dewi meyakinkan Luna.

“San, masmu itu setia banget ya nungguin,” lanjut Maya.

“Kok masnya aku sih? Itu kan masnya Dewi,” balas Sandra dengan muka masamnya.

“Udah-udah, Mas Paijo itu, masnya Sandra ma Dewi, kan mereka berdua yang naik bisnya Mas Paijo,” kata Luna sambil melirik ke arah Sandra dan Dewi.

“ Ih.. kalian nih, kok bahas Mas Paijo sih? Suka ya? Ntar deh aku bilangin,” kata Dewi.

Dan akhirnya Mas Paijo memanggil Sandra dan Dewi.

“Sandra, Dewi, mau pulang gak? Malah ngobrol di situ,” kata Mas Paijo dengan nada tinggi.

“Iya mas, tunggu-tunggu,” balas Sandra.

“Kami pulang dulu ya, da..,” kata Sandra dan Dewi bersamaan sambil melambaikan tangannya.

“Da..,” balas Luna dan Maya serentak.

Tak terasa Luna dan Maya sudah 1 jam lebih menunggu di gerbang sekolah. Semua murid dan para guru sudah meninggalkan sekolah. Tak lama kemudian Maya dijemput oleh ayahnya.

“Lun, itu ayahku, kamu pulang sama aku aja, ntar aku yang bilang sama ayahku, daripada di sekolah sendirian,” kata Maya.

“Makasih May, gak usah, aku nunggu aja disini, palingan ntar lagi ayahku jemput,” kata Luna meyakinkan Maya.

“Beneran?” Tanya Maya.

“Beneran, lagian rumah kita kan beda jalur. Udah sana ayahmu nungguin tu,” balas Luna.

“Ya udah, hati-hati ya, da..,” kata Maya.

“Iya, da..,” balas Luna.

Setelah nunggu cukup lama, Ayah Luna tak kunjung menjemput. Tanpa pikir panjang, akhirnya Luna jalan kaki menuju rumahnya yang lumayan jauh dari sekolah, dan di dalam hati, Luna masih berharap di jalan nanti ada yang menjemputnya.

Baru sebentar berjalan, Luna melihat seekor anjing tepat dihadapannya yang sedang memperhatikan dirinya. Karena takut, Luna segera lari sekencang-kencangnya dan anjing itu juga mengejar Luna. Tiba-tiba ada seseorang yang berhenti tepat di sampingnya menggunakan motor. Ternyata ia adalah sepupu Luna yang tinggal di rumahnya. Namanya Mas Dimas.

“Ayo Lun, naik!” perintah Mas Dimas.

Dan segeralah Luna naik ke motor itu. Luna merasa senang dan merasa lega karena akhirnya ia terlepas dari kejaran anjing. Dan, sampailah di rumah.

“Makasih ya mas,” kata Luna sambil turun dari motor Mas Dimas.

“Ia,” balas Mas Dimas.

Keesokan harinya. Hari Minggu sore, Luna dan ayahnya menonton pertandingan sepak bola di Lapangan dekat rumahnya. Belum lama menonton, tiba-tiba Luna melihat dua orang laki-laki berjalan menuju tempatnya. Dan benar, dua orang laki-laki itu berbicara dengan ayahnya.

“Om, Dimas kecelakaan,” kata salah satu dari mereka.


Luna dan ayahnya kaget dan langsung berdiri dari tempat duduknya.

“Sekarang di mana?” tanya ayahnya khawatir.

“Di rumah sakit om,” balasnya.

Bergegaslah mereka berempat ke rumah sakit. Setelah sampai di rumah sakit, Luna dan ayahnya segera masuk ke tempat Mas Dimas ditangani. Dokter dan para suster pada sibuk melakukan tugasnya. Pada saat itulah, Luna benar-benar melihat sepupunya itu dalam keadaan tidak sadar dan amat sangat parah.

Dari mulut Mas Dimas mengeluarkan banyak darah. Darah yang banyak itu keluar melalui selang yang dimasukkan ke dalam mulut Mas Dimas oleh seorang suster. Dari telinga Mas Dimas juga mengeluarkan banyak darah. Nafas Mas Dimas pun terdengar udah gak karu-karuan. Saking gak sanggup melihat keadaan sepupunya itu, Luna bersembunyi di balik badan ayahnya dan meneteskan air mata.

Keadaan Mas Dimas tak kunjung membaik, malahan Luna mendengar kalau otak Mas Dimas udah bercampur dengan darah dan dokter pun tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Seketika itu seluruh tubuh Luna langsung lemas. Hari sudah malam, karena besok Luna harus sekolah, akhirnya Luna pulang ke rumah.

Di rumah, Luna mengingat kenangan-kenangan bersama Mas Dimas. Waktu Luna kecil, Mas Dimas sering mengajaknya pergi jalan-jalan. Mas Dimas juga ingat kapan Luna ulang tahun, selalu memberikan sesuatu sebagai hadiah ulang tahunnya, dan masih banyak lagi. Yang paling melekat dibenaknya, ketika hari Sabtu kemarin Mas Dimas tiba-tiba datang disaat Luna sangat membutuhkan bantuan. Karena Lelah, Luna pun tertidur lelap dan berharap besok keadaan Mas Dimas membaik. Di sela-sela tidurnya Luna bermimpi bertemu Mas Dimas. Di mimpinya itu Mas Dimas tidak berkata apa-apa, hanya tersenyum ikhlas, seolah-olah Mas Dimas memberitahukan agar Luna benar-benar harus ikhlas jika ia pergi. Luna terbangun dan menganggap itu semua hanya mimpi, dan ternyata hari sudah pagi.

Senin pagi pukul 06.15, saat Luna sedang bersiap-siap ke sekolah, tiba-tiba ibunya berbicara pada Luna.

“Lun, Mas Dimas meninggal,” kata ibu Luna sambil meneteskan air mata.

“Innalillahi Wainnaillaihi rojiun,” ucap Luna sambil meneteskan air mata.

Luna tak menduga, kalau sepupunya itu begitu cepat meninggalkannya, dan Luna pun benar-benar ikhlas, bahwa Mas Dimas memang pergi untuk selamanya.

Luna semakin menyadari bahwa semua yang hidup akan kembali ke pangkuan-Nya, dan tak ada yang tau kapan, di mana, bagaimana caranya, karena yang tau semua itu hanya Yang Maha Tahu.

Oleh:

Suci Mutihatunnisa

Kelas:

9.4

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.